top of page

Frequently Asked Questions

Apa perbedaan Kurikulum  Merdeka dengan sebelumnya?

Kurikulum Merdeka menekankan pada kebebasan sekolah dan guru dalam merancang pembelajaran, integrasi nilai-nilai lokal, pengembangan keterampilan abad ke-21, dan evaluasi formatif, berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang lebih terstruktur dan kurikulum nasional yang bersifat lebih sentralistik.

Bagaimana peran guru dalam Kurikulum Merdeka?

Dalam Kurikulum Merdeka, peran guru adalah merancang pembelajaran yang relevan dengan konteks lokal, mengintegrasikan nilai-nilai lokal, mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran, membina karakter dan etika peserta didik, melakukan evaluasi formatif secara berkelanjutan, dan berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif peserta didik.

Bagaimana evaluasi dan penilaian dilakukan dalam konteks Kurikulum Merdeka?

Dalam Kurikulum Merdeka, evaluasi dilakukan secara formatif dan berkelanjutan untuk memberikan umpan balik yang membangun kepada peserta didik. Penilaian lebih menekankan pada pengembangan kompetensi dan keterampilan, serta mencakup beragam bentuk penilaian seperti proyek, portofolio, dan penugasan yang menuntut keterlibatan aktif peserta didik.

Bagaimana Kurikulum Merdeka mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan kearifan lokal?

Kurikulum Merdeka mengintegrasikan nilai-nilai lokal dan kearifan lokal dengan menyertakan konten pembelajaran yang menghormati dan memasukkan budaya, sejarah, dan nilai-nilai tradisional Indonesia dalam kurikulum. Guru didorong untuk menggunakan contoh lokal dalam pengajaran mereka, seperti cerita-cerita rakyat, adat istiadat, dan praktik lokal dalam pendekatan pembelajaran. Ini bertujuan untuk memperkuat identitas budaya dan membangun apresiasi terhadap warisan budaya bangsa, sambil memberikan peserta didik pengalaman pembelajaran yang lebih berarti dan relevan dengan realitas lokal mereka.

Apa itu P5?

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau P5 merupakan inisiatif baru dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk memperkuat pemahaman, pengamalan, dan penerapan nilai-nilai Pancasila pada siswa. Konsep ini mencakup berbagai aspek untuk membentuk profil pelajar yang berintegritas, peduli terhadap sesama, produktif, memiliki pendekatan pedagogis yang baik, dan progresif dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. P5 didesain untuk mendukung pembentukan karakter dan moralitas yang kokoh serta sikap inklusif di kalangan generasi muda Indonesia.

Apakah murid, guru, dan sekolah benar-benar "Merdeka"?

Dalam konteks Kurikulum Merdeka di Indonesia, konsep "Merdeka" tidak hanya merujuk pada kebebasan fisik semata, tetapi lebih pada kebebasan dalam mengelola dan merancang proses pembelajaran serta pengembangan kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal dan karakteristik siswa. Ini mencakup kebebasan guru untuk merancang strategi pembelajaran yang kreatif dan relevan, serta kebebasan sekolah untuk mengadaptasi kurikulum nasional dengan lebih baik sesuai dengan kebutuhan dan konteks mereka.

Namun demikian, ada beberapa pertimbangan yang tetap mengikat dalam implementasi Kurikulum Merdeka, seperti standar kompetensi yang harus dipenuhi dan tujuan pendidikan nasional yang harus dicapai. Oleh karena itu, sementara ada kebebasan dalam merancang pembelajaran, tetap ada kerangka kerja dan panduan yang harus diikuti untuk memastikan bahwa standar pendidikan yang tinggi tetap terjaga.

Dalam prakteknya, proses menuju "Merdeka" dalam pendidikan melibatkan upaya bersama dari siswa, guru, sekolah, dan pemerintah untuk mengoptimalkan pembelajaran dan mencapai tujuan pendidikan nasional dengan lebih baik.

© Mohammad Dhanif Rahman & Arzandi Wira Abdullah | INF MP-D

bottom of page